"From the Hidden Heartbeat" Kini Hadir untuk Menyapa Dunia.

About Me

Selasa, 31 Maret 2026

ESDM Buka Suara soal Dokumen Viral Kenaikan Pertamax ke Rp17.850/Liter


 Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) buka suara terkait dokumen viral di media sosial yang memuat perkiraan kenaikan harga BBM nonsubsidi Pertamina per April 2026.

Dalam dokumen yang beredar, harga Pertamax disebut bakal melonjak Rp5.500 per liter menjadi Rp17.850/liter mulai 1 April 2026. Selain itu, sejumlah BBM nonsubsidi lain seperti Pertamax Green, Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex juga diklaim akan mengalami kenaikan tajam.

Namun, Dirjen Migas Kementerian ESDM Laode Sulaeman menegaskan bahwa hingga kini belum ada pengumuman resmi terkait harga BBM nonsubsidi per April.

“Nanti kita lihat saja, kan 1 April itu nanti,” kata Laode, Senin (30/3/2026).

Menurut Laode, harga BBM nonsubsidi memang mengikuti mekanisme pasar dan menjadi kewenangan masing-masing badan usaha hilir migas, baik milik negara maupun swasta.

“Untuk BBM nonsubsidi kan memang mekanisme pasar, baik BUMN maupun swasta, sudah ada mekanismenya mereka untuk menaikkan harga.”

Meski begitu, pemerintah memastikan BBM subsidi Pertalite tidak akan naik dan tetap dijual di harga Rp10.000/liter.

“Kalau kami dari sisi pemerintah yang penting [BBM] yang subsidi [Pertalite] enggak naik,” ujarnya.

Pertamina: Dokumen Viral Tak Bisa Dipertanggungjawabkan

Secara terpisah, VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron menyatakan dokumen proyeksi kenaikan harga BBM yang beredar tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Ia menegaskan, hingga saat ini belum ada pengumuman resmi harga BBM nonsubsidi Pertamina untuk periode 1 April 2026.

“Hingga saat ini belum ada pengumuman resmi mengenai harga per 1 April 2026. Dapatkan informasi valid harga BBM Pertamina hanya melalui saluran resmi,” kata Baron.

Dokumen Viral Sebut Kenaikan Tajam

Dalam dokumen yang beredar, disebutkan bahwa lonjakan harga dipicu oleh kenaikan harga minyak dunia, melemahnya kurs rupiah, serta situasi geopolitik global.

Dokumen itu bahkan mencantumkan proyeksi harga sebagai berikut:

  • Pertamax: naik jadi Rp17.850/liter
  • Pertamax Green: naik jadi Rp19.150/liter
  • Pertamax Turbo: naik jadi Rp19.450/liter
  • Dexlite: naik jadi Rp23.650/liter
  • Pertamina Dex: naik jadi Rp23.950/liter

Salah satu bagian dokumen juga menyebutkan bahwa lonjakan harga dipengaruhi situasi perang dan gangguan pasokan minyak dunia.

Meski demikian, hingga saat ini keabsahan dokumen tersebut belum dikonfirmasi secara resmi.

Harga Resmi Tunggu 1 April

Sebagai informasi, penyesuaian harga BBM nonsubsidi memang dilakukan secara berkala setiap tanggal 1 setiap bulan, mengacu pada formula harga yang diatur dalam Keputusan Menteri ESDM.

Pada Maret 2026, harga BBM nonsubsidi Pertamina memang sudah mengalami kenaikan. Untuk wilayah seperti DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DI Yogyakarta, harga Pertamax tercatat naik menjadi Rp12.300/liter, dari sebelumnya Rp12.100/liter.

Dengan demikian, publik kini masih menunggu apakah harga BBM nonsubsidi benar-benar akan naik signifikan pada 1 April 2026, atau dokumen yang beredar hanya sebatas simulasi internal yang belum final.

Share:

Senin, 30 Maret 2026

3.135 Gerai Kopdes Merah Putih Siap Operasi, 34.000 ditargetkan rampung dalam dua bulan

 Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) mulai memasuki fase baru. Setelah sebelumnya fokus pada pembentukan kelembagaan dan pembangunan fisik, kini ribuan gerai koperasi disebut siap masuk tahap operasional.

Menteri Koperasi Ferry Juliantono mengatakan, sebanyak 3.135 gerai Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih telah selesai dibangun 100 persen dan siap digunakan untuk operasional perdana.

Sementara itu, sekitar 34.000 gerai lainnya masih dalam tahap pembangunan dan ditargetkan rampung dalam waktu dua bulan ke depan, atau sekitar Mei 2026.

“3.135-an bangunan gerai dan alat perlengkapan yang sudah dibangun. Kemudian sedang dibangun sudah mencapai angka 34 ribu. Insya Allah 2 bulan yang akan datang selesai 100%,” ujar Ferry di kantornya, Jakarta, Senin (30/3/2026).

Masuk Tahap Operasional

Ferry menyebut, perkembangan ini menandai dimulainya fase penting dalam salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto. Secara total, pemerintah menargetkan pembangunan 80.000 Kopdes Merah Putih di seluruh Indonesia.

Artinya, proyek ini tidak lagi hanya bicara soal legalitas dan pembentukan koperasi, tetapi mulai bergerak ke arah operasional usaha secara nyata di tingkat desa dan kelurahan.

Menurut Ferry, ribuan Kopdes yang bangunannya telah rampung juga sudah dilengkapi sarana pendukung operasional, termasuk kendaraan logistik.

Tiap Gerai Dapat Truk dan Pikap

Ia menjelaskan, Kopdes yang telah selesai dibangun disebut sudah menerima masing-masing dua unit kendaraan, yakni truk dan pikap, untuk mendukung distribusi dan aktivitas usaha koperasi.

Kendaraan tersebut didatangkan melalui PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero).

“Sudah ribuan yang telah disalurkan di Koperasi Desa yang telah rampung pembangunan fisik gudang dan gerainya. Alat kelengkapannya langsung ada dengan sarana truk dan pikap,” kata Ferry.

Keberadaan kendaraan ini diposisikan sebagai bagian penting dari ekosistem usaha koperasi, terutama untuk menunjang distribusi barang, logistik hasil pertanian, kebutuhan pokok, hingga operasional gerai di lapangan.

Agrinas Impor 105 Ribu Kendaraan dari India

Namun, di balik percepatan pembangunan dan persiapan operasional itu, muncul sorotan tajam dari sisi pengadaan kendaraan.

Sebelumnya, Agrinas diketahui resmi mengimpor 105.000 unit kendaraan niaga dari India untuk mendukung program KDKMP di seluruh Indonesia.

Secara rinci, kendaraan yang didatangkan terdiri dari:

  • 35.000 unit pikap Scorpio dari Mahindra
  • 35.000 unit Yodha Pick Up dari Tata Motors India
  • 35.000 unit truk Ultra T.7 dari Tata Motors India

Jika dihitung, jumlah tersebut memang sejalan dengan kebutuhan armada dalam skala besar untuk mendukung target pembangunan puluhan ribu koperasi.

Namun, keputusan impor ini langsung memunculkan pertanyaan publik.

Kontroversi di Tengah Industri Otomotif yang Lesu

Kebijakan mendatangkan kendaraan dari India menuai kontroversi karena terjadi di tengah kondisi industri otomotif nasional yang sedang lesu.

Di saat penjualan kendaraan domestik mengalami tekanan, langkah impor dalam jumlah sangat besar dinilai berpotensi menimbulkan pertanyaan: mengapa kebutuhan armada program nasional tidak lebih banyak melibatkan industri otomotif dalam negeri?

Sorotan ini menjadi sensitif karena program Koperasi Merah Putih sejatinya membawa semangat pemberdayaan ekonomi nasional dari desa. Karena itu, publik menilai ekosistem pendukungnya pun idealnya ikut menggerakkan rantai industri nasional, termasuk sektor manufaktur dan otomotif.

Di sisi lain, pemerintah kemungkinan mempertimbangkan aspek kecepatan pengadaan, ketersediaan unit, serta skala kebutuhan nasional yang memang sangat besar.



Meski begitu, tanpa penjelasan yang lebih terbuka soal skema pengadaan, tingkat kandungan lokal, dan alasan pemilihan merek serta negara asal kendaraan, polemik ini berpotensi terus berkembang.

Tantangan Setelah Pembangunan

Masuknya Kopdes ke fase operasional memang menjadi perkembangan penting. Namun, tantangan program ini tidak hanya soal pembangunan fisik atau kelengkapan armada.

Ke depan, yang juga akan menjadi sorotan adalah kesiapan tata kelola, model bisnis, manajemen usaha, hingga efektivitas operasional di lapangan.

Sebab, membangun gerai dan mendatangkan kendaraan adalah satu hal. Tetapi memastikan koperasi benar-benar hidup, berjalan sehat, dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat desa adalah tantangan yang jauh lebih besar.

Jika tidak dikelola dengan baik, program yang dibangun dalam skala masif ini berisiko hanya kuat di atas kertas, tetapi lemah dalam keberlanjutan usaha.

Di titik inilah, publik akan mulai menilai: apakah Kopdes Merah Putih benar-benar akan menjadi motor ekonomi desa, atau justru menghadapi persoalan baru setelah fase pembangunan selesai.

Share:

Kamis, 26 Maret 2026

KDKMP Tumbuh Cepat, Tapi RAT Masih Jadi PR Besar


 Di tengah pesatnya pertumbuhan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), ada satu persoalan penting yang justru belum beres: Rapat Anggota Tahunan (RAT).

Padahal, RAT bukan sekadar agenda rutin. Forum ini adalah “jantung” koperasi—tempat pengurus menyampaikan laporan, anggota memberi evaluasi, dan arah koperasi ditentukan bersama. Tanpa RAT, koperasi bisa tumbuh besar secara angka, tetapi lemah dalam tata kelola.

Menjelang batas akhir pelaksanaan RAT pada 31 Maret, capaian KDKMP masih jauh dari ideal. Berdasarkan data Sistem Informasi Koperasi Desa (Simkopdes), baru 3.857 KDKMP yang telah melaksanakan RAT.

Sementara itu, 25.989 koperasi masih dalam tahap persiapan atau proses pelaksanaan. Lebih mengkhawatirkan lagi, 52.201 KDKMP tercatat belum melaksanakan RAT sama sekali.

Angka ini tentu menjadi ironi. Sebab di sisi lain, pertumbuhan KDKMP justru terlihat sangat pesat.

Hingga 26 Maret 2026, sebanyak 83.384 KDKMP telah berbadan hukum. Jumlah itu terdiri dari 8.589 Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) dan 74.795 Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Artinya, secara legal formal, mayoritas koperasi sudah memiliki pondasi yang cukup kuat.

Bukan hanya itu, dari sisi pengembangan usaha, capaian KDKMP juga cukup mencolok. Tercatat 78.998 koperasi sudah memiliki microsite, yang menunjukkan adopsi digital mulai berjalan cukup luas.

Kemudian, sebanyak 29.052 koperasi telah memiliki gerai usaha, sementara 32.448 KDKMP tercatat memiliki gudang dan gerai yang sudah selesai atau masih dalam proses pembangunan. Ini menunjukkan bahwa geliat ekonomi koperasi mulai tumbuh di tingkat desa dan kelurahan.

Dari sisi sumber daya manusia, skalanya juga tidak kecil. Saat ini ada 695.697 pengurus yang terlibat, terdiri dari 488.224 laki-laki dan 207.473 perempuan.

Sementara itu, jumlah anggota koperasi mencapai 1.967.886 orang, dengan komposisi 1.198.298 laki-laki dan 769.588 perempuan. Jumlah ini mencerminkan besarnya potensi sosial dan ekonomi yang dimiliki KDKMP.

Namun di sinilah letak persoalannya. Pertumbuhan kelembagaan dan usaha belum sepenuhnya dibarengi dengan disiplin tata kelola.

Banyak koperasi tampak cepat berkembang dari sisi legalitas, digitalisasi, dan infrastruktur usaha, tetapi belum menempatkan RAT sebagai prioritas utama. Padahal, RAT adalah forum paling penting dalam koperasi karena menyangkut transparansi, akuntabilitas, dan kepercayaan anggota.

Kalau RAT tidak dilaksanakan, koperasi berisiko kehilangan arah. Anggota tidak punya ruang evaluasi yang jelas, pengurus tidak menyampaikan pertanggungjawaban secara resmi, dan keputusan penting bisa berjalan tanpa mekanisme demokratis yang sehat.

Risikonya pun bukan hanya soal internal organisasi. Koperasi yang terlambat atau tidak melaksanakan RAT juga bisa menghadapi konsekuensi administratif. Mulai dari teguran, penurunan penilaian kesehatan koperasi, hingga terbatasnya akses terhadap program dan bantuan pemerintah.

Dalam kondisi tertentu, jika kewajiban ini terus diabaikan, koperasi bahkan bisa menghadapi pembekuan hingga pembubaran.

Karena itu, percepatan RAT menjadi sangat penting dalam beberapa hari terakhir menjelang tenggat. Peran pemerintah daerah, pemerintah desa, dan pendamping koperasi sangat dibutuhkan untuk mendorong koperasi segera menyelesaikan kewajiban ini.

Penguatan kapasitas pengurus, peningkatan literasi administrasi dan keuangan, serta pemanfaatan teknologi seperti Simkopdes harus terus dioptimalkan. Sebab koperasi yang sehat bukan hanya koperasi yang punya badan hukum, microsite, gudang, atau gerai usaha.

Lebih dari itu, koperasi yang kuat adalah koperasi yang tertib, akuntabel, dan dipercaya anggotanya.

Dengan deadline 31 Maret yang tinggal menghitung hari, tantangan terbesar KDKMP saat ini bukan lagi soal membangun legalitas atau memperluas usaha. Tantangan utamanya justru ada pada hal yang paling mendasar: menjaga disiplin tata kelola melalui RAT.

Sebab pada akhirnya, koperasi tidak cukup hanya tumbuh besar. Koperasi juga harus tumbuh sehat.

Share:

Kamis, 12 Maret 2026

Menata Ulang Program Makan Bergizi Gratis agar Tepat Sasaran dan Berdampak Nyata

 

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) lahir dari sebuah visi besar: memastikan anak-anak Indonesia tumbuh sehat sekaligus memperkuat kualitas sumber daya manusia di masa depan. Dengan anggaran yang sangat besar dan cakupan luas, program ini menjadi salah satu kebijakan sosial paling ambisius yang pernah dijalankan. Namun ketika implementasinya menyentuh realitas di lapangan, khususnya di desa, muncul pertanyaan mendasar: apakah desain program ini sudah benar-benar tepat sasaran?

Secara prinsip, MBG adalah program yang layak didukung. Penyediaan makanan bergizi bagi siswa terbukti dapat meningkatkan kesehatan, konsentrasi belajar, hingga kehadiran di sekolah. Banyak negara telah membuktikan bahwa program serupa mampu memberikan dampak positif bagi dunia pendidikan.

Namun, jika tujuan utamanya adalah menekan angka stunting, pendekatan yang berfokus pada anak usia sekolah perlu dievaluasi. Stunting sangat dipengaruhi oleh asupan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan—dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Pada periode inilah pertumbuhan fisik dan perkembangan otak berlangsung sangat pesat.

Artinya, intervensi paling efektif justru berada pada kelompok ibu hamil, bayi, dan balita. Program gizi yang menyasar kelompok ini akan memberikan dampak yang jauh lebih langsung dalam upaya penurunan stunting dibandingkan intervensi pada anak yang sudah melewati fase krusial tersebut.

Selain aspek kesehatan, MBG juga diharapkan mampu menggerakkan ekonomi rakyat. Dalam konsep awalnya, dapur penyedia makanan atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diharapkan menyerap bahan pangan dari petani, pedagang, dan pelaku usaha kecil di sekitar wilayahnya.

Namun realitas di lapangan menunjukkan tantangan berbeda. Dapur berskala besar cenderung memilih pemasok besar karena harga lebih kompetitif, pasokan lebih stabil, dan mampu memenuhi kebutuhan dalam jumlah besar setiap hari. Dampaknya, pedagang kecil dan pelaku usaha lokal kesulitan untuk bersaing.

Situasi ini menghadirkan ironi: program yang dirancang untuk memberdayakan ekonomi rakyat justru berpotensi lebih menguntungkan pelaku usaha bermodal besar. Bahkan, pengelolaan dapur skala besar sering kali hanya bisa dijalankan oleh pihak yang sudah memiliki kapasitas finansial kuat.

Di sinilah peran desa menjadi sangat penting. Pemerintah desa memiliki pemahaman paling dekat terhadap kondisi warganya, termasuk siapa saja yang membutuhkan intervensi gizi secara prioritas. Melalui jaringan posyandu, kader kesehatan, dan data keluarga, desa sebenarnya mampu memastikan program berjalan lebih tepat sasaran.

Tidak hanya itu, desa juga memiliki instrumen ekonomi yang seharusnya dilibatkan secara nyata. Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dapat menjadi penghubung antara dapur MBG dengan petani, peternak, dan pelaku usaha kecil. Dengan peran ini, rantai pasok pangan dapat dikelola lebih adil dan memberi manfaat langsung bagi ekonomi lokal.

Sayangnya, keterlibatan BUMDes dan KDMP sering kali masih sebatas wacana. Padahal, jika dirancang secara serius, keduanya bisa menjadi tulang punggung distribusi bahan pangan dalam program MBG di berbagai daerah.

Besarnya anggaran MBG juga membuka ruang refleksi. Dengan nilai sekitar Rp335 triliun per tahun, muncul pertanyaan tentang efektivitas pemanfaatannya. Jika dibandingkan dengan jumlah keluarga miskin sekitar 4,9 juta, anggaran tersebut setara dengan sekitar Rp68 juta per keluarga per tahun.

Angka ini menunjukkan potensi besar jika digunakan secara lebih terarah. Dengan dukungan sebesar itu, keluarga miskin secara teoritis dapat memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan bergizi, pendidikan, kesehatan, hingga modal usaha. Perbandingan ini bukan untuk menolak MBG, tetapi untuk menekankan pentingnya perencanaan yang matang agar dampaknya benar-benar optimal.

Karena itu, yang dibutuhkan bukanlah menghentikan program ini, melainkan menata ulang pelaksanaannya. Program sebesar MBG memerlukan desain yang presisi agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh kelompok yang paling membutuhkan.

Pelibatan desa, BUMDes, dan KDMP harus diwujudkan secara nyata, bukan sekadar menjadi bagian dari dokumen kebijakan. Tanpa pengawalan serius di lapangan, tujuan meningkatkan gizi sekaligus menggerakkan ekonomi rakyat berisiko tidak tercapai.

Jika sasaran diperjelas, intervensi difokuskan pada kelompok paling rentan, dan rantai pasok benar-benar berpihak pada ekonomi lokal, MBG berpotensi menjadi lebih dari sekadar program makan gratis. Ia dapat berkembang menjadi kebijakan strategis yang mampu menurunkan stunting sekaligus memperkuat ekonomi desa. Pada akhirnya, keberhasilan program ini tidak ditentukan oleh besarnya anggaran, tetapi oleh ketepatan arah kebijakan dan keberanian untuk memperbaikinya.


Share:

Senin, 02 Maret 2026

Di Balik Mobil Impor Koperasi Desa: Kepentingan Siapa?


Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, menyampaikan bahwa lebih dari seribu bangunan koperasi desa telah selesai dibangun sepenuhnya. Dengan selesainya infrastruktur tersebut, menurutnya perlu adanya dukungan tambahan berupa kendaraan operasional yang menjadi hak masing-masing desa.

Ia menegaskan bahwa koperasi desa beserta seluruh fasilitasnya—termasuk kendaraan—bukan merupakan milik Kementerian Koperasi maupun pemerintah pusat. Seluruh aset itu sepenuhnya akan menjadi milik koperasi desa sebagai bagian dari penguatan kemandirian ekonomi lokal.

Langkah ini disebut sebagai bagian dari kebijakan Presiden dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Sebelumnya, pemerintah juga telah menginstruksikan penyediaan fasilitas pendukung seperti gudang, gerai, dan perlengkapan lainnya agar koperasi memiliki sarana penyimpanan sekaligus distribusi barang.

Dengan tersedianya infrastruktur tersebut, koperasi desa yang dimiliki oleh masyarakat diharapkan dapat langsung beroperasi dan mengembangkan kegiatan usaha secara optimal.

Namun, kebijakan terkait impor mobil dari India menuai kritik. Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis sekaligus CEO Induk Koperasi Usaha Rakyat, Suroto, menilai bahwa aspek manfaat ekonomi harus menjadi pertimbangan utama. Ia menekankan bahwa efektivitas kendaraan tersebut perlu diukur dari sejauh mana mampu meningkatkan produktivitas masyarakat desa, khususnya dalam menekan biaya logistik.

Share:

Selasa, 13 Januari 2026

15 Januari Ditetapkan sebagai Hari Desa Nasional, Puncak Perayaan 2026 Digelar di Boyolali

Pemerintah secara resmi menetapkan tanggal 15 Januari sebagai Hari Desa Nasional. Penetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2024 tentang Hari Desa.

Pada 2026, peringatan Hari Desa Nasional mengusung tema “Bangun Desa, Bangun Indonesia.” Puncak perayaan akan dipusatkan di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat melalui berbagai agenda budaya, olahraga, dan pemberdayaan desa.

Penetapan Hari Desa Nasional dilatarbelakangi oleh sejarah pengesahan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa yang ditetapkan pada 15 Januari 2014. Momentum tersebut dipandang sebagai tonggak penting dalam memberikan kejelasan status serta kepastian hukum desa dalam sistem ketatanegaraan Indonesia.

Berdasarkan informasi yang dibagikan melalui akun Instagram resmi @haridesanasional2026, peringatan ini memiliki lima tujuan utama. Di antaranya adalah menyebarluaskan kebijakan pembangunan dan kemandirian desa, mendorong pertukaran gagasan dan praktik pembangunan desa, memperkuat kebersamaan di tengah keberagaman, membangun sinergi lintas peran dalam pembangunan desa, serta menguatkan nilai-nilai budaya lokal sebagai bagian dari transformasi menuju desa mandiri.

Kabupaten Boyolali dipilih sebagai tuan rumah peringatan Hari Desa Nasional 2026 karena dinilai merepresentasikan semangat desa yang terus tumbuh, berdaya, dan berkontribusi terhadap pembangunan nasional.

Rangkaian kegiatan peringatan akan berlangsung selama enam hari, mulai 10 hingga 15 Januari 2026. Kegiatan diawali dengan Gerakan Bakti Desa pada 10 Januari 2026 yang melibatkan 261 desa di seluruh Kabupaten Boyolali.

Pada 11 Januari 2026, masyarakat akan diajak berpartisipasi dalam kegiatan jalan sehat, car free day, serta donor darah. Pada hari yang sama hingga 13 Januari 2026, akan digelar Lomba E-Sport Nasional dan Piala Bupati dengan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Agenda olahraga lainnya yang menjadi sorotan adalah Liga Desa Tingkat Nasional cabang sepak bola yang berlangsung pada 11–14 Januari 2026. Kompetisi ini diikuti oleh 7.800 desa yang telah melalui proses seleksi berjenjang mulai dari tingkat kecamatan hingga kabupaten.

Selanjutnya, pada 12 Januari 2026, panitia akan menggelar coaching clinic bagi kepala desa dan pengelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) guna meningkatkan kapasitas tata kelola dan pengembangan ekonomi desa.

Menjelang puncak perayaan, berbagai kegiatan besar akan dipusatkan di Kebun Raya Indrokilo pada 14 Januari 2026. Agenda tersebut meliputi pameran potensi unggulan desa, pasar murah, seminar dan lokakarya desa, final Liga Desa Nasional 2026, serta hiburan rakyat melalui layar tancap.

Puncak peringatan Hari Desa Nasional 2026 pada 15 Januari akan ditandai dengan upacara seremonial, tasyakuran melalui pagelaran wayang kulit, serta kegiatan “Ngopi Bersama” antara Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (PDT) Yandri Susanto dengan masyarakat dan para kepala desa.

Share:

Ketika Data Disalah-artikan: Membaca Ulang Narasi Korupsi Desa

Data kerap dianggap sebagai representasi paling jujur dari sebuah realitas. Namun, kejujuran data sangat bergantung pada cara ia dibaca. Dalam isu korupsi, terutama ketika sektor desa kerap disebut sebagai penyumbang kasus terbanyak di Indonesia, publik sering berhenti pada angka mentah—tanpa menelusuri proporsi, konteks, dan dampaknya. Akibatnya, data yang seharusnya memberi pencerahan justru melahirkan stigma.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menafikan fakta bahwa korupsi juga terjadi di desa. Setiap pelanggaran hukum tetap harus ditindak tegas. Namun, keadilan dalam penegakan hukum harus dibarengi dengan keadilan dalam membaca data. Tanpa konteks yang utuh, angka justru berpotensi menyesatkan dan menciptakan generalisasi yang tidak adil terhadap desa—fondasi paling dasar dalam struktur pemerintahan Indonesia.

Narasi bahwa kepala desa merupakan pelaku korupsi terbanyak di Indonesia telah lama beredar dan diterima publik hampir tanpa kritik. Klaim ini umumnya merujuk pada laporan tahunan pemantauan korupsi yang menempatkan sektor desa sebagai penyumbang jumlah kasus terbanyak. Sekilas, klaim tersebut tampak benar. Namun, jika dibaca secara lebih jernih dan proporsional, kesimpulan itu justru problematik.

Berdasarkan Data Pemantauan Tren Korupsi 2024 yang dirilis Indonesia Corruption Watch (ICW), sepanjang 2024 terdapat 364 kasus korupsi yang ditangani aparat penegak hukum. Dari jumlah tersebut, 77 kasus terjadi di sektor desa atau sekitar 21 persen, menjadikannya sektor dengan jumlah kasus terbanyak. Angka inilah yang kerap dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa kepala desa adalah aktor korupsi terbesar.

Masalahnya, membaca data semata-mata dari jumlah absolut merupakan kekeliruan logika yang sering terjadi dalam diskursus publik. Indonesia memiliki lebih dari 75 ribu desa. Kepala desa adalah jabatan publik dengan populasi terbesar di negeri ini. Dalam statistik, populasi yang besar hampir pasti menghasilkan jumlah kasus yang terlihat besar, meskipun tingkat pelanggarannya rendah.

Jika 77 kasus tersebut dibandingkan dengan jumlah kepala desa yang mencapai lebih dari 75 ribu orang, persentasenya hanya sekitar 0,1 persen—bahkan tidak mencapai satu persen. Artinya, sekitar 99,9 persen kepala desa tidak terlibat kasus korupsi. Fakta ini nyaris tidak pernah menyertai narasi “kepala desa paling banyak korupsi” yang telanjur beredar luas.

Di sisi lain, data ICW juga menunjukkan bahwa korupsi terjadi hampir di seluruh sektor strategis. Kasus korupsi ditemukan di sektor utilitas, pemerintahan pusat dan daerah, kesehatan, pendidikan, investasi, perbankan, hingga sumber daya alam. Dengan kata lain, korupsi adalah persoalan lintas sektor, bukan monopoli desa.

Dimensi lain yang kerap luput dari perhatian publik adalah besaran kerugian negara. ICW mencatat total potensi kerugian negara akibat korupsi sepanjang 2024 mencapai sekitar Rp279,9 triliun. Ketika angka ini diurai per sektor, gambaran yang muncul menjadi jauh lebih proporsional.

Korupsi di sektor desa—yang paling sering disorot—menyumbang potensi kerugian negara sekitar Rp80,89 miliar, atau hanya sekitar 0,03 persen dari total kerugian negara akibat korupsi nasional. Sebaliknya, sektor sumber daya alam menjadi penyumbang kerugian terbesar dengan nilai mencapai ratusan triliun rupiah, meskipun jumlah kasusnya tidak sebanyak desa. Sektor utilitas, kesehatan, investasi, dan perbankan juga mencatat kerugian negara hingga triliunan rupiah—jauh melampaui kerugian akibat korupsi dana desa.

Jika dibandingkan dengan total Dana Desa 2024 yang mencapai Rp71 triliun, nilai korupsi desa sebesar Rp80,89 miliar hanya sekitar 0,11 persen. Artinya, hampir 99 persen Dana Desa dikelola dan disalurkan secara tepat. Inilah gambaran yang muncul jika data dibaca secara objektif dan utuh.

Perbandingan ini menegaskan satu hal mendasar: jumlah kasus tidak selalu berbanding lurus dengan besarnya dampak. Kasus terbanyak tidak identik dengan kerugian terbesar. Namun, perbedaan krusial ini kerap diabaikan dalam narasi publik.

Mengapa desa begitu mudah distigma? Ada sejumlah faktor yang patut dicermati. Pengelolaan Dana Desa berlangsung di level paling bawah dan bersentuhan langsung dengan masyarakat, sehingga setiap persoalan cepat terlihat dan mudah menjadi sorotan. Di sisi lain, kapasitas administrasi aparatur desa belum merata, sementara regulasi berubah cepat dan kerap rumit. Banyak kepala desa berasal dari latar belakang non-birokrasi—guru, petani, pedagang, ustaz—yang tidak selalu dibekali kemampuan administratif dan hukum yang memadai.

Pengawasan sosial di desa juga sangat ketat karena aparat desa hidup di tengah masyarakatnya sendiri, ditambah pengawasan dari LSM dan media. Selain itu, kepala desa merupakan jabatan politik yang rentan konflik. Rivalitas pascapemilihan kerap memicu laporan hukum di kemudian hari. Tak sedikit pula kasus bermula dari kesalahan administratif yang kemudian berkembang menjadi persoalan pidana.

Penjelasan ini bukan pembenaran, melainkan konteks penting agar upaya pencegahan korupsi lebih tepat sasaran. Tanpa konteks, stigma hanya akan melahirkan ketakutan, bukan perbaikan tata kelola.

Melawan korupsi adalah keharusan. Namun, keadilan dalam membaca data juga merupakan bagian tak terpisahkan dari agenda antikorupsi. Narasi yang tidak proporsional berisiko merusak kepercayaan publik terhadap desa, melemahkan semangat aparatur desa, dan pada akhirnya menghambat pembangunan di level paling dasar negara.

Data ICW menunjukkan dengan jelas: sektor desa memang mencatat jumlah kasus terbanyak, tetapi persentasenya kecil dan kontribusinya terhadap kerugian negara sangat terbatas. Korupsi terbesar secara dampak justru terjadi di sektor lain yang jarang mendapat stigma serupa.

Desa adalah fondasi negara, tempat pelayanan publik paling dasar dijalankan. Mayoritas kepala desa bekerja dalam keterbatasan, dengan pengawasan ketat masyarakat, serta memikul tanggung jawab besar. Karena itu, narasi yang lebih jujur seharusnya berbunyi: korupsi adalah persoalan lintas sektor, dan desa bukan penyumbang utama kerugian negara akibat korupsi.

Benar secara angka belum tentu benar secara makna. Dalam demokrasi yang sehat, kejujuran membaca data adalah bagian dari keadilan itu sendiri.

Share:

Minggu, 11 Januari 2026

Dana Desa Jateng 2026 Dipangkas Tajam, Kepala Desa Keluhkan Dampak Program

 Anggaran Dana Desa (DD) untuk Provinsi Jawa Tengah pada 2026 mengalami pemangkasan signifikan. Dari Rp7,9 triliun pada 2025, alokasi Dana Desa tahun ini turun drastis menjadi Rp2,1 triliun. Kondisi tersebut dikeluhkan Perkumpulan Aparatur Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (Papdesi) Jawa Tengah karena dinilai mengganggu berbagai program pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa.

Ketua Papdesi DPC Kendal, Abdul Malik, mengatakan informasi pemangkasan Dana Desa baru diterima pemerintah desa pada akhir Desember 2025 melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Kependudukan, dan Pencatatan Sipil (Dispermadesdukcapil) Provinsi Jawa Tengah.

Menurut Abdul, pengurangan Dana Desa berkaitan dengan kebijakan pemerintah pusat yang mengalihkan sebagian anggaran untuk program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

“Pengurangan Dana Desa terjadi karena adanya target pembangunan gerai Koperasi Desa Merah Putih. Pemerintah pusat menggantinya melalui pembangunan gerai KDMP,” ujar Abdul saat dihubungi, Sabtu (10/1/2026).

Abdul yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Ngampel Wetan, Kecamatan Ngampel, Kabupaten Kendal, menyebut Dana Desa di desanya turun sekitar 60 persen. Pada 2025, Desa Ngampel Wetan menerima Dana Desa sebesar Rp676 juta, sementara pada 2026 hanya Rp252 juta.

Ia menyatakan pemangkasan Dana Desa terjadi di seluruh desa di Kabupaten Kendal dan berdampak langsung pada program-program yang sebelumnya disepakati melalui musyawarah desa. Sejumlah program pembangunan fisik terpaksa dibatalkan, sementara program sosial dan pemberdayaan masyarakat ikut terdampak.

“Program penanganan stunting, ketahanan pangan, BLT Dana Desa, posyandu, PKK, hingga kegiatan lintas sektor juga terdampak. Anggaran posyandu yang sebelumnya Rp36 juta kini hanya sekitar Rp10 juta,” kata Abdul.

Ia menambahkan, keterbatasan anggaran juga memicu kesalahpahaman di tengah masyarakat. Sebagian warga mempertanyakan pengurangan kegiatan desa dan mencurigai adanya penyelewengan anggaran oleh pemerintah desa.

Menurut Abdul, seluruh program yang terdampak merupakan kebutuhan dasar masyarakat desa. Namun, ia menegaskan para kepala desa tetap harus menjalankan kebijakan pemerintah pusat tersebut. Ia berharap program Koperasi Desa Merah Putih nantinya benar-benar memberikan kontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat dan pendapatan desa.

Saat ini, kata Abdul, pembangunan gerai Koperasi Desa Merah Putih di Desa Ngampel Wetan masih dalam proses dan belum beroperasi.

Share:

Dana Desa Reguler 2026 Menurun Tajam, Pemdes Diminta Fokus Program Prioritas


Dana Desa (DD) reguler untuk Kabupaten Semarang pada tahun anggaran 2026 mengalami penurunan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini berdampak pada 208 desa yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Semarang.

Berdasarkan data Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dispermades) Kabupaten Semarang, alokasi Dana Desa reguler tahun 2026 tercatat sebesar Rp69.891.342.000. Jumlah tersebut turun sekitar 66,5 persen dibandingkan Dana Desa tahun 2025 yang mencapai Rp208.545.055.000.

Kepala Dispermades Kabupaten Semarang, Budi Rahardjo, menyampaikan bahwa penurunan tersebut baru terlihat pada Dana Desa reguler. Sementara itu, alokasi Dana Desa nonreguler tahun 2026 hingga saat ini masih menunggu kepastian dari pemerintah pusat.

“Jika dibandingkan dengan tahun 2025, Dana Desa reguler 2026 memang mengalami penurunan sekitar 66,5 persen. Untuk Dana Desa nonreguler, sampai sekarang angkanya belum keluar,” ujar Budi, Kamis (8/1/2026).

Ia menjelaskan, Dana Desa reguler merupakan kebijakan pemerintah pusat yang langsung ditransfer ke rekening pemerintah desa. Adapun Dana Desa nonreguler masih menunggu pengaturan lebih lanjut melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK).

Penurunan Dana Desa reguler 2026 berdampak pada besaran alokasi yang diterima masing-masing desa. Jika sebelumnya terdapat selisih cukup besar antara desa berskala kecil dan besar, kini rentang alokasi menjadi jauh lebih sempit. Pada tahun 2025, alokasi Dana Desa terendah masih berada di kisaran Rp500 juta, sementara tertinggi mencapai Rp1,8 miliar. Namun pada 2026, alokasi terendah berkisar Rp260 juta dan tertinggi sekitar Rp373 juta.

“Dulu perbedaan alokasi antara desa kecil dan besar cukup jauh. Sekarang rangenya sangat pendek, sekitar Rp260 juta hingga Rp373 juta. Desa yang sebelumnya menerima Rp1,2 miliar kini hanya sekitar Rp272 juta, sedangkan yang sebelumnya Rp1,8 miliar menjadi sekitar Rp373 juta,” jelasnya.

Meski terjadi penurunan anggaran, pemerintah desa tetap diwajibkan menyesuaikan perencanaan dan pelaksanaan kegiatan sesuai regulasi terbaru. Saat ini telah diterbitkan Peraturan Menteri Desa Nomor 16 Tahun 2025 yang mengatur prioritas penggunaan Dana Desa.

“Dengan terbitnya Permendes Nomor 16 Tahun 2025, pemerintah desa wajib mengikuti prioritas penggunaan Dana Desa sesuai regulasi terbaru,” tegas Budi.

Dalam regulasi tersebut, Dana Desa diarahkan untuk mendukung program Asta Cita sesuai kewenangan desa, antara lain penanganan kemiskinan ekstrem melalui BLT Desa, penguatan ketahanan iklim dan kebencanaan, layanan dasar kesehatan termasuk penanganan stunting, ketahanan pangan, dukungan koperasi desa, pembangunan infrastruktur desa berbasis padat karya tunai, serta pengembangan infrastruktur digital dan teknologi di desa.

Di sisi lain, penggunaan Dana Desa juga dibatasi. Sejumlah kegiatan dilarang dibiayai dari Dana Desa, seperti pembayaran honorarium kepala desa dan perangkat desa, perjalanan dinas ke luar daerah, pembangunan kantor desa baru, serta kegiatan bimbingan teknis dan studi banding ke luar kabupaten/kota.

Sementara itu, Bupati Semarang, Ngesti Nugraha, menegaskan bahwa penurunan Dana Desa harus disikapi dengan kebijakan yang realistis dan berorientasi pada skala prioritas. Ia meminta seluruh kepala desa untuk menunda kegiatan yang tidak mendesak dan memfokuskan anggaran pada program-program prioritas.

“Dengan turunnya Dana Desa, kami meminta kepala desa untuk melaksanakan terlebih dahulu kegiatan yang benar-benar prioritas. Kegiatan yang kurang prioritas agar ditunda,” ujarnya.

Menurut Ngesti, penentuan prioritas harus selaras antara pemerintah daerah dan pemerintah desa, terutama dalam mendukung program strategis pemerintah pusat. Seluruh perangkat daerah dan pemerintah desa diminta menyesuaikan program dengan sektor unggulan dan kebutuhan wilayah.

“Misalnya penguatan Koperasi Desa Merah Putih yang berkaitan dengan penyediaan sarana prasarana, serta dukungan terhadap program makan gratis, seperti penyiapan bahan pangan sayuran,” pungkasnya.

Share:

Jumat, 09 Januari 2026

Mengenal Sumber Anggaran Desa dan Pengelolaannya dalam APBDes

Pemerintah desa memiliki kewenangan untuk mengelola keuangan desa secara mandiri guna mendukung penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan desa. Seluruh sumber pendapatan desa tersebut dihimpun dan dikelola melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes), yang menjadi instrumen utama dalam membiayai berbagai kegiatan desa.

Anggaran desa bersumber dari beragam pos pendapatan, baik yang berasal dari potensi desa sendiri maupun dari pemerintah pusat dan daerah, serta dukungan pihak lain yang sah.

Pendapatan Asli Desa (PADes)

Salah satu sumber utama pendapatan desa adalah Pendapatan Asli Desa (PADes). PADes berasal dari potensi ekonomi dan aset yang dimiliki desa, serta partisipasi aktif masyarakat.

PADes meliputi hasil usaha desa, seperti pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), pasar desa, tambatan perahu, hingga hutan milik desa. Selain itu, hasil kekayaan desa seperti mata air, pemandian umum, dan objek wisata desa juga termasuk dalam PADes.

Sumber PADes lainnya berasal dari pungutan desa yang ditetapkan melalui Peraturan Desa (Perdes), serta hasil swadaya, partisipasi, dan gotong royong masyarakat desa yang mencerminkan kemandirian dan kebersamaan warga.

Dana Desa dari APBN

Selain PADes, desa juga menerima Dana Desa yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dana ini merupakan transfer langsung dari Pemerintah Pusat ke desa, yang bertujuan untuk mempercepat pembangunan desa dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dana Desa digunakan terutama untuk pembiayaan pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat, seperti pembangunan infrastruktur dasar, peningkatan layanan sosial, serta penguatan ekonomi masyarakat desa.

Alokasi Dana Desa dan Bagi Hasil Pajak Daerah

Sumber pendapatan desa berikutnya berasal dari Alokasi Dana Desa (ADD) dan Bagi Hasil Pajak dan Retribusi Daerah, yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) kabupaten/kota.

ADD merupakan bagian dari dana perimbangan keuangan pusat dan daerah yang dialokasikan kepada desa, dengan ketentuan minimal sebesar 10 persen dari Dana Alokasi Umum (DAU) ditambah Dana Bagi Hasil (DBH). Dana ini digunakan untuk mendukung operasional pemerintahan desa, termasuk penghasilan tetap kepala desa dan perangkat desa.

Sementara itu, bagi hasil pajak dan retribusi daerah diberikan kepada desa sebagai bentuk pemerataan keuangan daerah dan penguatan kapasitas fiskal desa.

Bantuan Keuangan dari Pemerintah Daerah

Desa juga dapat menerima bantuan keuangan yang bersumber dari APBD Provinsi maupun APBD Kabupaten/Kota. Bantuan ini biasanya diberikan untuk mendukung program atau kegiatan tertentu yang berkaitan dengan urusan pemerintahan desa, pembangunan, maupun program strategis daerah.

Hibah dan Sumbangan Pihak Ketiga

Selain sumber-sumber resmi pemerintah, desa dapat menerima hibah dan sumbangan dari pihak ketiga. Sumbangan ini bersifat tidak mengikat dan harus sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta dikelola secara transparan dan akuntabel.

Lain-Lain Pendapatan Desa yang Sah

Sumber pendapatan desa lainnya adalah lain-lain pendapatan desa yang sah, termasuk hasil kerja sama desa dengan pihak ketiga. Kerja sama ini dapat dilakukan dalam berbagai bidang, seperti pengelolaan potensi wisata, pengembangan ekonomi lokal, atau pemanfaatan aset desa.

Pengelolaan Anggaran melalui APBDes

Seluruh sumber pendapatan desa tersebut dicatat dan dikelola dalam APBDes, yang digunakan untuk membiayai empat bidang utama, yakni penyelenggaraan pemerintahan desa, pelaksanaan pembangunan desa, pembinaan kemasyarakatan, serta pemberdayaan masyarakat desa.

Pengelolaan APBDes harus dilakukan secara transparan, partisipatif, tertib, dan akuntabel agar anggaran desa benar-benar memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat desa.

Share:

Regulasi Desa di Indonesia: Payung Hukum hingga Aturan Teknis Pelaksanaannya

Penyelenggaraan pemerintahan desa di Indonesia diatur melalui sejumlah regulasi yang saling berkaitan. Aturan-aturan tersebut bertujuan memberikan kepastian hukum, memperkuat otonomi desa, serta mendorong pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa secara berkelanjutan.

Payung hukum utama yang mengatur desa adalah Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa (UU Desa). Regulasi ini kemudian dijabarkan lebih lanjut melalui berbagai peraturan pelaksana, mulai dari Peraturan Pemerintah (PP), Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri), Peraturan Menteri Desa (Permendes), hingga Peraturan Desa (Perdes).

UU Desa sebagai Payung Hukum Utama

UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa menjadi dasar hukum utama dalam pengaturan desa di Indonesia. Undang-undang ini mengatur secara komprehensif mengenai kedudukan desa, kewenangan desa, pemerintahan desa, keuangan desa, pembangunan desa, serta pemberdayaan masyarakat desa, termasuk pengakuan terhadap desa adat.

Melalui UU Desa, pemerintah memberikan ruang otonomi yang lebih luas kepada desa untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal-usul, dan adat istiadat setempat. Desa tidak lagi diposisikan sekadar sebagai objek pembangunan, melainkan sebagai subjek pembangunan.

Peraturan Pemerintah sebagai Aturan Pelaksana

Untuk mengimplementasikan UU Desa, pemerintah menerbitkan sejumlah Peraturan Pemerintah (PP) yang bersifat teknis dan operasional. Salah satu regulasi penting adalah PP Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan UU Desa, yang mengatur berbagai aspek penyelenggaraan pemerintahan desa, mulai dari kewenangan, tata kelola, hingga hubungan desa dengan pemerintah daerah.

Selain itu, terdapat PP Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa, yang mengatur mekanisme pengalokasian, penyaluran, penggunaan, serta pengawasan dana desa yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). PP ini menjadi dasar penting dalam pengelolaan keuangan desa dan terus disesuaikan melalui sejumlah perubahan.

Peran Permendagri dalam Tata Kelola Desa

Di tingkat kementerian, Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) berfungsi mengatur aspek tata kelola dan kelembagaan pemerintahan desa. Salah satu regulasi kunci adalah Permendagri Nomor 84 Tahun 2015, yang mengatur Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah Desa, termasuk tugas pokok dan fungsi perangkat desa.

Selain itu, Permendagri Nomor 110 Tahun 2016 mengatur tentang Badan Permusyawaratan Desa (BPD) sebagai lembaga perwakilan masyarakat desa. Sementara itu, Permendagri Nomor 111 hingga 114 Tahun 2014 mengatur aspek teknis lainnya, seperti peraturan desa, pemilihan kepala desa, keuangan desa, dan pembangunan desa.

Permendes dan Penguatan Pemberdayaan Desa

Regulasi desa juga diperkuat melalui Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Permendes). Aturan ini mengatur hal-hal yang lebih spesifik, seperti hak asal-usul desa, musyawarah desa, Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa), pendampingan desa, serta prioritas penggunaan dana desa.

Permendes berperan penting dalam memastikan pembangunan desa berjalan sesuai kebutuhan masyarakat dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan serta kemandirian desa.

Peraturan Desa sebagai Implementasi di Tingkat Lokal

Di tingkat desa, kebijakan diwujudkan melalui Peraturan Desa (Perdes). Perdes ditetapkan oleh Kepala Desa setelah dibahas dan disepakati bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Regulasi ini mengatur urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat desa sesuai dengan kondisi lokal.

Keberadaan Perdes menjadi instrumen penting dalam menerjemahkan kebijakan nasional dan daerah ke dalam praktik pemerintahan desa yang konkret dan sesuai kebutuhan masyarakat setempat.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, regulasi desa di Indonesia membentuk satu sistem hukum yang berjenjang dan saling melengkapi. UU Desa menjadi fondasi utama, sementara PP, Permendagri, Permendes, dan Perdes berfungsi sebagai aturan pelaksana yang memastikan penyelenggaraan pemerintahan desa berjalan efektif, transparan, dan berpihak pada kepentingan masyarakat desa.

Share:

Memahami Perbedaan Pemerintah Desa dan Pemerintahan Desa

Masih banyak masyarakat yang belum memahami perbedaan antara istilah Pemerintah Desa dan Pemerintahan Desa. Kedua istilah ini kerap digunakan secara bergantian dalam percakapan sehari-hari, padahal keduanya memiliki makna yang berbeda dalam sistem ketatanegaraan Indonesia.

Perbedaan tersebut penting dipahami, terutama karena keduanya diatur secara jelas dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.

Pengertian Desa Menurut Undang-Undang

Dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa disebutkan bahwa desa atau desa adat adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah dan berwenang mengatur serta mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat. Kewenangan tersebut dijalankan berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal-usul, dan hak tradisional yang diakui dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Kepala Desa dan Struktur Pemerintahan Desa

Kepala Desa merupakan pejabat Pemerintah Desa yang memiliki wewenang, tugas, dan kewajiban untuk menyelenggarakan pemerintahan serta mengurus rumah tangga desa. Dalam menjalankan tugasnya, Kepala Desa dibantu oleh perangkat desa yang terdiri atas sekretariat desa, pelaksana teknis, dan kepala kewilayahan atau kepala dusun.

Susunan perangkat tersebut membentuk Struktur Organisasi dan Tata Kerja (SOTK) Pemerintahan Desa sebagai satu sistem kelembagaan yang mengatur pembagian tugas, fungsi, dan hubungan kerja di tingkat desa.

Perbedaan Pemerintah Desa dan Pemerintahan Desa

Undang-Undang Desa secara tegas membedakan antara Pemerintah Desa dan Pemerintahan Desa.

Pemerintah Desa adalah unsur pelaksana pemerintahan di desa. Pemerintah Desa terdiri atas Kepala Desa atau sebutan lain, yang dibantu oleh perangkat desa. Dengan kata lain, Pemerintah Desa merujuk pada subjek atau pelaksana yang menjalankan roda pemerintahan desa.

Sementara itu, Pemerintahan Desa adalah proses penyelenggaraan urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat dalam sistem NKRI. Pemerintahan Desa tidak hanya melibatkan Pemerintah Desa, tetapi juga Badan Permusyawaratan Desa (BPD).

Peran BPD dalam Pemerintahan Desa

Badan Permusyawaratan Desa (BPD) merupakan lembaga desa yang berfungsi sebagai perwakilan masyarakat. Anggota BPD berasal dari wakil penduduk desa dan ditetapkan secara demokratis.

Dalam penyelenggaraan Pemerintahan Desa, Pemerintah Desa dan BPD memiliki kedudukan yang sejajar sebagai lembaga desa, meskipun memiliki tugas dan fungsi yang berbeda. Keduanya menjalin hubungan kerja yang erat, antara lain dalam:

  • Membahas dan menyepakati peraturan desa

  • Memprakarsai perubahan status desa menjadi kelurahan

  • Pembahasan dan persetujuan APB Desa

  • Pengelolaan aset dan kekayaan desa

  • Penyampaian laporan kinerja Kepala Desa kepada BPD

Kesimpulan

Secara sederhana, Pemerintah Desa merujuk pada pelaku atau aparat yang menjalankan pemerintahan desa, sedangkan Pemerintahan Desa adalah proses dan mekanisme penyelenggaraan pemerintahan desa yang melibatkan Pemerintah Desa dan BPD.

Memahami perbedaan ini penting agar masyarakat dapat berpartisipasi secara tepat dalam kehidupan demokrasi dan pembangunan di tingkat desa.

Istilah Penting dalam UU Desa

Selain kedua istilah tersebut, Undang-Undang Desa juga mengenal sejumlah istilah penting, antara lain:

  • Musyawarah Desa, forum pengambilan keputusan strategis yang melibatkan BPD, Pemerintah Desa, dan unsur masyarakat

  • Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa), badan usaha yang dikelola desa untuk kesejahteraan masyarakat

  • Peraturan Desa, regulasi yang ditetapkan Kepala Desa bersama BPD

  • Pembangunan Desa, upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat desa

  • Keuangan dan Aset Desa, seluruh hak, kewajiban, serta kekayaan desa yang dapat dinilai dengan uang

  • Pemberdayaan Masyarakat Desa, upaya meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat melalui kebijakan dan pendampingan

Share:

Mengenal Pengertian Desa, Ciri, dan Fungsinya dalam Kehidupan Masyarakat

Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia selalu membutuhkan orang lain untuk memenuhi berbagai kebutuhan. Ketergantungan inilah yang mendorong manusia hidup berkelompok dan membentuk masyarakat, salah satunya dalam bentuk masyarakat desa.

Desa identik dengan kehidupan yang dekat dengan alam, lingkungan yang masih asri, serta hubungan sosial yang erat. Di Indonesia, desa kerap disebut dengan berbagai istilah, seperti kampung, dusun, nagari, pekon, hingga banjar, tergantung pada wilayah dan kearifan lokal setempat.

Pengertian Desa

Secara umum, desa merupakan kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah tertentu dan berwenang mengatur serta mengurus kepentingan masyarakatnya berdasarkan hak asal-usul dan adat istiadat yang diakui oleh negara.

Secara etimologis, kata desa berasal dari bahasa Sanskerta deca yang berarti tanah kelahiran atau kampung halaman. Sementara itu, dalam pengertian geografis, desa diartikan sebagai kelompok permukiman yang berada di wilayah pedesaan dan berukuran lebih kecil dibandingkan kota.

Di Indonesia, desa merupakan pembagian wilayah administratif di bawah kabupaten atau kota yang dipimpin oleh kepala desa. Penyebutan pimpinan desa pun beragam, seperti kepala desa, peratin, kuwu, hukum tua, hingga pambakal, sesuai dengan tradisi daerah masing-masing.

Pengertian Desa Menurut Para Ahli dan Peraturan Perundang-undangan

Sejumlah ahli dan regulasi memberikan definisi desa dari berbagai sudut pandang. Prof. Drs. Widjaja menyebut desa sebagai kesatuan masyarakat hukum yang memiliki susunan asli berdasarkan hak-hak istimewa sejak awal terbentuknya. Sementara itu, R. Bintarto memandang desa sebagai hasil interaksi unsur geografis, sosial, budaya, dan politik dalam suatu wilayah.

Adapun menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), desa adalah kesatuan wilayah yang dihuni oleh sejumlah keluarga dan memiliki sistem pemerintahan sendiri.

Dalam regulasi negara, pengertian desa tercantum dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Disebutkan bahwa desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah dan berwenang mengatur serta mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal-usul, serta hak tradisional yang diakui dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ciri-ciri Desa

Desa memiliki karakteristik yang membedakannya dari wilayah perkotaan. Kehidupan masyarakat desa umumnya sangat dekat dengan alam dan didominasi oleh mata pencaharian di sektor pertanian, peternakan, dan perikanan.

Kepadatan penduduk di desa relatif rendah, dengan jarak antarrumah yang masih berjauhan dan memiliki pekarangan luas. Interaksi sosial masyarakat desa cenderung intens dan bersifat personal, sehingga ikatan kekeluargaan dan solidaritas sosial terjalin kuat.

Selain itu, mobilitas penduduk desa relatif rendah. Keterbatasan lapangan pekerjaan serta kuatnya ikatan sosial membuat masyarakat desa cenderung menetap dan jarang berpindah tempat.

Fungsi Desa

Desa memiliki peran strategis dalam kehidupan sosial dan ekonomi nasional. Salah satu fungsi utama desa adalah sebagai penyangga atau hinterland yang memasok kebutuhan pangan, seperti beras, jagung, umbi-umbian, sayur, dan buah-buahan.

Dari sisi ekonomi, desa berfungsi sebagai lumbung bahan baku dan sumber tenaga kerja. Desa juga dikenal sebagai wilayah produksi, baik sebagai desa pertanian, nelayan, industri kecil, maupun sentra kerajinan.

Desa sebagai Pelestari Kearifan Lokal

Desa berperan penting dalam menjaga dan melestarikan kearifan lokal. Tradisi, adat istiadat, dan budaya lokal masih hidup dan berkembang di masyarakat pedesaan. Keberadaan desa menjadi benteng penting dalam menjaga identitas budaya bangsa di tengah arus modernisasi.

Desa sebagai Mitra Pembangunan

Selain sebagai sumber pangan dan tenaga kerja, desa juga berperan sebagai mitra pembangunan. Hubungan desa dan kota bersifat saling melengkapi. Pembangunan yang berkelanjutan menuntut adanya kerja sama antara masyarakat desa dan perkotaan demi mewujudkan kesejahteraan bersama.

Share:

Jumat, 28 November 2025

Pentingnya Lingkungan

 Seorang ayah lari tunggang-langgang ketika dari kejauhan terlihat seekor singa berjalan mendekatinya. Wajar, dia tahu betul


betapa berbahayanya singa.

Anaknya ikut lari terbirit-birit. Bukan karena tahu bahaya, tapi karena melihat ayahnya lari duluan. Anak ini belum paham mengapa harus lari, dan apa yang akan terjadi jika tetap diam. Ia hanya meniru.

Hari berikutnya, setiap melihat singa, anak ini reflek lari. Tanpa perlu diteriaki. 

Namun karena tidak benar-benar mengerti mana singa mana bukan, suatu hari melihat domba pun ia menangis kabur. Ya, disangkanya semua binatang berbulu itu “berbahaya”.

Sampai suatu hari ia menonton pertunjukan sirkus. Di sana ia melihat para pawang bercengkerama dengan singa. Di benaknya, pawang itu tampak keren, hebat, dan inspiratif.

Anak itu pun coba meniru. Dan…haummm! Sekejap tubuhnya dicabik, ditelan. Habis.

Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga dan lingkungan penuh ketakwaan, yang sejak kecil dibiasakan jijik pada kemaksiatan, entah itu khamr, pesta horeg, buka aurat, pergaulan bebas, biasanya akan tumbuh dengan rasa takut melakukan semua itu.

Tapi ini berubah ketika ia menemukan lingkungan baru. Teman-teman baru yang dekat dengan khamr, wanita, musik maksiat, meninggalkan shalat, dan korup. Lama-lama ia merasa: “Ah… ternyata tidak semenakutkan yang dibilang orang tuaku.”

Dari sekadar penasaran, menjadi coba coba. Dari mencoba menjadi ketagihan. Dan dari ketagihan, na‘udzubillah, bisa benar-benar tenggelam dalam dunia gelap, su’ul khatimah, dan akhirat yang pedih

----

Di sinilah pentingnya hidup dalam lingkungan orang-orang saleh. Di sinilah bahayanya jika maksiat diumbar dan dipertontonkan. Dan di sinilah mengapa wajib amar ma’ruf nahi munkar.

Tontonan di tiktok atau reels, juga sangat berpengaruh. Algoritma bisa mengubah persepsi manusia tentang maksiat. Ah biasa aja, semua orang juga joget, semua wanita juga pamer pantat, kitanya aja yang selama ini terlalu mabok agama. 

Kalau tragedi singa tadi dilihat anak-anak lain, sudah pasti mereka tak berani mendekati singa lagi. Mereka menjadi ainul yakin, melihat sendiri bahayanya, meski di tempat lain sang pawang masih saja terlihat santai mencari nafkah bersama singa-singa itu.

Demikian pula orang bertakwa. Hatinya tetap takut maksiat meskipun tinggal di lingkungan yang buruk. Karena setiap hari mereka melihat, dengan ‘ilmul yakin, betapa Maha Kuasanya Allah, betapa lemahnya diri ini, dan betapa benarnya ancaman neraka yang diberitakan oleh Rasul yang mustahil berdusta.

Share:

Jumat, 07 November 2025

Jangan Tunda Sedekah

Pada suatu hari, ketika berada di dalam kamar mandi, Abul Hasan Al-Busyanji berteriak memanggil muridnya seraya berkata, "Ambilkan bajuku dan segera berikan kepada Fulan."

"Mengapa Anda tidak memberikan pakaian itu nanti setelah keluar dari kamar mandi?" tanya si murid.

"Saat ini dalam hatiku terbetik keinginan untuk memberikan pakaian itu kepada Fulan.  Jika kutunda sampai keluar dari kamar mandi, aku khawatir, niat baikku ini akan berubah," jawabnya.


Hikmah Dibalik Kisah

Saudaraku, betapa sering kita gagal melakukan perbuatan baik hanya karena menundanya.  Waktu yang kita miliki hanyalah saat ini, sedangkan nanti, kita tidak tahu apa yang akan terjadi.  Bisa jadi, nanti kita tidak lagi memiliki masa luang, jatuh sakit, menjadi miskin, menjadi tua dan lemah, atau keburu direnggut maut. Rasûlullâh saw bersabda:

إِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وصِحَّتَكَ قَبْل سَقَمِكَ، وغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

"Manfaatkanlah lima hal sebelum datang lima yang lain.  Manfaatkanlah masa mudamu sebelum tiba masa tuamu, masa sehatmu sebelum tiba masa sakitmu, masa kayamu sebelum tiba masa miskinmu, masa luangmu sebelum tiba masa sibukmu dan masa hidupmu sebelum tiba ajalmu."

Share:

Senin, 03 November 2025

Raja Keraton Solo Pakubuwono XIII Meninggal Dunia

 

Pakubuwono XIII, Raja Keraton Solo, wafat pada usia 77 tahun, meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Jawa dan seluruh bangsa Indonesia. Kepergian beliau menandai berakhirnya satu era pelestarian budaya Jawa yang penuh dedikasi dan kebijaksanaan.

Kehidupan dan Kepemimpinan Pakubuwono XIII

Pakubuwono XIII naik takhta sebagai Raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat sejak tahun 2004. Lahir di Surakarta pada 28 Juni 1948, beliau dikenal sebagai sosok yang rendah hati, bijak, dan berkomitmen menjaga nilai-nilai tradisi Jawa.

Dalam masa kepemimpinannya, beliau menghidupkan kembali berbagai kegiatan adat seperti kirab pusaka, Sekaten, dan Tingalan Dalem Jumenengan. Langkah-langkah ini menjadikan Keraton Surakarta tetap relevan di tengah modernisasi.

Riwayat Sakit dan Kabar Duka

Beberapa bulan terakhir, Pakubuwono XIII menjalani perawatan intensif akibat komplikasi penyakit, termasuk gula darah tinggi dan penurunan kondisi fisik. Beliau menghembuskan napas terakhir pada Ahad pagi, 2 November 2025 pukul 07.30 WIB, di salah satu rumah sakit di Sukoharjo. Kabar duka tersebut dikonfirmasi oleh pihak keluarga Keraton, disambut dengan tangis haru para abdi dalem dan masyarakat.

Prosesi Pemulangan dan Pemakaman Sang Raja

Jenazah Raja Keraton Solo Pakubuwono XIII tiba di Keraton Surakarta dengan iring-iringan adat yang khidmat. Suasana duka menyelimuti kompleks keraton, di mana kerabat, abdi dalem, dan masyarakat turut memberikan penghormatan terakhir. Prosesi pemakaman adat Keraton akan dilaksanakan di Makam Raja Imogiri, Yogyakarta, pada Rabu, 5 November 2025. Upacara dilakukan sesuai tata cara tradisi keraton, disertai doa dan penghormatan adat Jawa.

Warisan dan Dedikasi untuk Budaya Jawa

Semasa hidupnya, Pakubuwono XIII dikenal sebagai penjaga warisan budaya Jawa yang teguh dan konsisten. Beberapa warisan penting yang ditinggalkannya antara lain:

  • Menguatkan fungsi Keraton Surakarta sebagai pusat edukasi budaya dan sejarah Jawa.
  •  Mengajak generasi muda untuk mencintai dan melestarikan kesenian tradisional Jawa.
  •  Menjaga upacara adat seperti Sekaten, Grebeg Maulud, dan Tingalan Dalem agar tetap dikenal luas.
  •  Membangun kolaborasi antara Keraton, seniman, dan pemerintah daerah untuk memperluas pengaruh budaya di era modern.

 Tantangan dan Harapan Setelah Kepergian Raja

Kepergian Pakubuwono XIII meninggalkan tanggung jawab besar bagi penerus Keraton. Beberapa tantangan utama yang dihadapi antara lain:

  • Menentukan penerus takhta Keraton Surakarta secara sah dan sesuai adat.
  •  Melanjutkan visi pelestarian budaya Jawa yang diwariskan beliau.
  •  Menjaga peran Keraton Surakarta agar tetap menjadi pusat budaya yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

Masyarakat berharap Keraton Surakarta tetap menjadi simbol kebijaksanaan dan keluhuran budaya Jawa, seperti yang diwariskan oleh Pakubuwono XIII semasa hidupnya.

Kepergian Raja Keraton Solo Pakubuwono XIII bukan sekadar kehilangan seorang pemimpin, melainkan berakhirnya era penting dalam sejarah kebudayaan Jawa. Warisan beliau berupa dedikasi terhadap tradisi, kesenian, dan nilai luhur budaya akan terus menjadi inspirasi bagi generasi mendatang.

Pakubuwono XIII akan dikenang sebagai Raja yang menjaga warisan leluhur dengan hati dan keteguhan, sosok yang menjembatani masa lalu dan masa depan budaya Jawa.


Share:

Rabu, 29 Oktober 2025

Kisah Tentang Indahnya Keyakinan yang Benar

Dikisahkan bahwa sekelompok pencuri keluar pada malam hari untuk merampok kafilah yang sedang melintas. Ketika malam semakin larut, mereka tiba di sebuah ribath (tempat ibadah atau persinggahan bagi para pejuang di padang pasir). Mereka mengetuk pintu dan berkata kepada penghuni ribāṭ itu: _“Kami adalah sekelompok mujahid yang sedang berjihad di jalan Allah, dan kami ingin bermalam di tempat kalian malam ini.”_

Penghuni ribath pun membukakan pintu untuk mereka. Mereka masuk, dan pemilik ribath menyambut serta melayani mereka dengan penuh hormat. Ia berniat mendekatkan diri kepada Allah dengan berkhidmat kepada mereka, karena ia mengira mereka adalah para pejuang suci.

Pemilik ribath itu memiliki seorang anak laki-laki yang lumpuh dan tidak bisa berdiri. Maka ia mengambil air sisa minuman dan bekas wudhu para tamu itu, lalu berkata kepada istrinya: _“Usapkan air ini ke tubuh anak kita. Semoga Allah menyembuhkannya dengan keberkahan para mujahid ini.”_

Sang istri pun melakukannya dengan penuh keyakinan.

Keesokan paginya, para “mujahid” palsu itu berangkat keluar dan menuju ke suatu arah. Mereka melakukan perampokan dan mengambil sejumlah harta, lalu pada sore harinya kembali ke ribāṭ itu. Saat mereka tiba, mereka terkejut melihat anak pemilik ribāṭ berjalan tegak dan sehat.

Mereka berkata kepada pemilik rumah: _“Apakah ini anakmu yang kemarin kami lihat lumpuh?”_

Pemilik ribath menjawab:_“Ya. Aku mengambil sisa air minum dan bekas wudhu kalian, lalu kuusap ke tubuhnya. Maka Allah menyembuhkannya dengan keberkahan kalian.”_

Mendengar hal itu, para pencuri menangis tersedu-sedu dan berkata:_“Ketahuilah, wahai tuan, kami bukanlah para mujahid. Kami hanyalah sekelompok pencuri yang hendak merampok di jalan. Namun, Allah telah menyembuhkan anakmu karena niat baik dan keyakinant ulusmu.”_

Mereka pun bertaubat kepada Allah Ta‘ala dengan sungguh-sungguh, dan sejak hari itu mereka menjadi para pejuang sejati di jalan Allah (ghuzat dan Mujahidin) hingga akhirnya mereka wafat dalam keadaan demikian.

Sumber kitab: An Nawadir Hal 17 Karya Al imam Al Qolyubi

Share:

Senin, 08 September 2025

Reshuffle Kabinet, Ini Daftar 4 Menteri dan 1 Wamen yang Dilantik Prabowo



 Jakarta - Presiden Prabowo Subianto melakukan reshuffle Kabinet Merah Putih. Sebanyak 4 menteri dan 1 wakil menteri dilantik sore ini oleh Presiden Prabowo.

Pelantikan ini digelar di Istana Negara, Jakarta, Senin (8/9/2025), pukul 16.00 WIB. Berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 86P tahun 2025 tentang pemberhentian dan pengangkatan menteri dan wakil menteri negara Kabinet Merah Putih periode tahun 2024-2029, total ada 4 orang yang dilantik sebagai menteri dan 1 orang yang dilantik sebagai wakil menteri.

Berikut ini daftarnya:

Menteri Keuangan: Purbaya Yudhi Sadewa

Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia: Mukhtarudin

Menteri Koperasi: Ferry Juliantono

Menteri Haji dan Umrah: Mochamad Irfan Yusuf

Wakil Menteri Haji dan Umrah: Dahnil Anzar Simanjuntak

Share:

Minggu, 07 September 2025

Hari ini ada Gerhana Bulan Total, catat waktunya.

 


Fenomena gerhana bulan total yang terjadi hari ini, Minggu, 7 September 2025, dapat disaksikan dengan jelas di Kabupaten Semarang karena wilayah ini berada dalam zona Waktu Indonesia Barat (WIB).


Jadwal Gerhana Bulan Total di Kabupaten Semarang


Berikut adalah jadwal lengkap fase-fase gerhana yang bisa Anda amati di Kabupaten Semarang:


 * Awal Gerhana Penumbra: Pukul 22.26 WIB (Minggu, 7 September)


 * Awal Gerhana Sebagian: Pukul 23.26 WIB (Minggu, 7 September)


 * Awal Gerhana Total (Blood Moon): Pukul 00.30 WIB (Senin, 8 September)


 * Puncak Gerhana: Pukul 01.11 WIB (Senin, 8 September)


 * Akhir Gerhana Total: Pukul 01.53 WIB (Senin, 8 September)


 * Akhir Gerhana Sebagian: Pukul 02.56 WIB (Senin, 8 September)


 * Akhir Gerhana Penumbra: Pukul 03.56 WIB (Senin, 8 September)


Anda bisa menyaksikan seluruh rangkaian fenomena ini, mulai dari saat Bulan perlahan memasuki bayangan Bumi hingga kembali normal.


Dalam ajaran Islam, fenomena gerhana bulan (khusuf) bukanlah sekadar peristiwa alam biasa, melainkan salah satu tanda kebesaran Allah SWT yang patut direnungkan. Oleh karena itu, dianjurkan bagi umat Islam untuk melakukan beberapa amalan sunnah saat gerhana terjadi. 


Berikut adalah amalan-amalan yang dianjurkan saat gerhana bulan:


1. Melaksanakan Shalat Gerhana (Shalat Khusuf)

Ini adalah amalan utama yang sangat ditekankan oleh Rasulullah SAW. Shalat gerhana dianjurkan untuk dilakukan secara berjamaah di masjid, tetapi juga sah jika dilakukan sendiri di rumah. Shalat ini tidak didahului oleh adzan dan iqamah, melainkan diserukan dengan lafazh "Ash-shalatu jaami'ah" (salat berjamaah).

 * Tata Cara Shalat Gerhana Bulan:

   * Shalat terdiri dari dua rakaat.

   * Setiap rakaat memiliki dua kali ruku' dan dua kali sujud.

   * Pada rakaat pertama: membaca Al-Fatihah dan surah yang panjang, kemudian ruku' dan i'tidal. Setelah i'tidal, kembali membaca Al-Fatihah dan surah yang lebih pendek dari sebelumnya. Setelah itu, ruku' kembali, lalu i'tidal, dan dilanjutkan dengan dua kali sujud.

   * Rakaat kedua dilakukan dengan cara yang sama, namun dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat pertama.

   * Setelah shalat selesai, dianjurkan untuk mendengarkan khutbah (bagi yang berjamaah).


2. Memperbanyak Zikir, Istighfar, dan Doa

Saat gerhana, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak zikir, istighfar (memohon ampunan), dan doa. Ini merupakan bentuk pengingat akan kebesaran Allah dan permohonan perlindungan dari segala azab.

 * Dzikir yang bisa dibaca:

   * Astaghfirullaahal 'azhiim. (Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung.)

   * Allahu Akbar. (Allah Maha Besar.)

   * Subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaha illallah, wallahu akbar, wa laa hawla wa laa quwwata illa billahil 'aliyyil 'azhim. (Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar, tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.)


3. Bersedekah

Bersedekah merupakan amalan yang sangat dianjurkan saat terjadi gerhana. Hal ini sebagai wujud kepedulian sosial dan rasa syukur kepada Allah SWT.


4. Mengingat Kebesaran Allah dan Merenung

Gerhana adalah momen yang tepat untuk merenungkan kebesaran dan kekuasaan Allah. Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang. Maka jika kalian melihatnya, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalatlah, dan bersedekahlah." (HR. Bukhari dan Muslim).

Share:
IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia

Sidebar Ads

PETA DESA BENDUNGAN

Facebook Fanspage