Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) mulai memasuki fase baru. Setelah sebelumnya fokus pada pembentukan kelembagaan dan pembangunan fisik, kini ribuan gerai koperasi disebut siap masuk tahap operasional.
Menteri Koperasi Ferry Juliantono mengatakan, sebanyak 3.135 gerai Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih telah selesai dibangun 100 persen dan siap digunakan untuk operasional perdana.
Sementara itu, sekitar 34.000 gerai lainnya masih dalam tahap pembangunan dan ditargetkan rampung dalam waktu dua bulan ke depan, atau sekitar Mei 2026.
“3.135-an bangunan gerai dan alat perlengkapan yang sudah dibangun. Kemudian sedang dibangun sudah mencapai angka 34 ribu. Insya Allah 2 bulan yang akan datang selesai 100%,” ujar Ferry di kantornya, Jakarta, Senin (30/3/2026).
Masuk Tahap Operasional
Ferry menyebut, perkembangan ini menandai dimulainya fase penting dalam salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto. Secara total, pemerintah menargetkan pembangunan 80.000 Kopdes Merah Putih di seluruh Indonesia.
Artinya, proyek ini tidak lagi hanya bicara soal legalitas dan pembentukan koperasi, tetapi mulai bergerak ke arah operasional usaha secara nyata di tingkat desa dan kelurahan.
Menurut Ferry, ribuan Kopdes yang bangunannya telah rampung juga sudah dilengkapi sarana pendukung operasional, termasuk kendaraan logistik.
Tiap Gerai Dapat Truk dan Pikap
Ia menjelaskan, Kopdes yang telah selesai dibangun disebut sudah menerima masing-masing dua unit kendaraan, yakni truk dan pikap, untuk mendukung distribusi dan aktivitas usaha koperasi.
Kendaraan tersebut didatangkan melalui PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero).
“Sudah ribuan yang telah disalurkan di Koperasi Desa yang telah rampung pembangunan fisik gudang dan gerainya. Alat kelengkapannya langsung ada dengan sarana truk dan pikap,” kata Ferry.
Keberadaan kendaraan ini diposisikan sebagai bagian penting dari ekosistem usaha koperasi, terutama untuk menunjang distribusi barang, logistik hasil pertanian, kebutuhan pokok, hingga operasional gerai di lapangan.
Agrinas Impor 105 Ribu Kendaraan dari India
Namun, di balik percepatan pembangunan dan persiapan operasional itu, muncul sorotan tajam dari sisi pengadaan kendaraan.
Sebelumnya, Agrinas diketahui resmi mengimpor 105.000 unit kendaraan niaga dari India untuk mendukung program KDKMP di seluruh Indonesia.
Secara rinci, kendaraan yang didatangkan terdiri dari:
- 35.000 unit pikap Scorpio dari Mahindra
- 35.000 unit Yodha Pick Up dari Tata Motors India
- 35.000 unit truk Ultra T.7 dari Tata Motors India
Jika dihitung, jumlah tersebut memang sejalan dengan kebutuhan armada dalam skala besar untuk mendukung target pembangunan puluhan ribu koperasi.
Namun, keputusan impor ini langsung memunculkan pertanyaan publik.
Kontroversi di Tengah Industri Otomotif yang Lesu
Kebijakan mendatangkan kendaraan dari India menuai kontroversi karena terjadi di tengah kondisi industri otomotif nasional yang sedang lesu.
Di saat penjualan kendaraan domestik mengalami tekanan, langkah impor dalam jumlah sangat besar dinilai berpotensi menimbulkan pertanyaan: mengapa kebutuhan armada program nasional tidak lebih banyak melibatkan industri otomotif dalam negeri?
Sorotan ini menjadi sensitif karena program Koperasi Merah Putih sejatinya membawa semangat pemberdayaan ekonomi nasional dari desa. Karena itu, publik menilai ekosistem pendukungnya pun idealnya ikut menggerakkan rantai industri nasional, termasuk sektor manufaktur dan otomotif.
Di sisi lain, pemerintah kemungkinan mempertimbangkan aspek kecepatan pengadaan, ketersediaan unit, serta skala kebutuhan nasional yang memang sangat besar.
Meski begitu, tanpa penjelasan yang lebih terbuka soal skema pengadaan, tingkat kandungan lokal, dan alasan pemilihan merek serta negara asal kendaraan, polemik ini berpotensi terus berkembang.
Tantangan Setelah Pembangunan
Masuknya Kopdes ke fase operasional memang menjadi perkembangan penting. Namun, tantangan program ini tidak hanya soal pembangunan fisik atau kelengkapan armada.
Ke depan, yang juga akan menjadi sorotan adalah kesiapan tata kelola, model bisnis, manajemen usaha, hingga efektivitas operasional di lapangan.
Sebab, membangun gerai dan mendatangkan kendaraan adalah satu hal. Tetapi memastikan koperasi benar-benar hidup, berjalan sehat, dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat desa adalah tantangan yang jauh lebih besar.
Jika tidak dikelola dengan baik, program yang dibangun dalam skala masif ini berisiko hanya kuat di atas kertas, tetapi lemah dalam keberlanjutan usaha.
Di titik inilah, publik akan mulai menilai: apakah Kopdes Merah Putih benar-benar akan menjadi motor ekonomi desa, atau justru menghadapi persoalan baru setelah fase pembangunan selesai.







0 komentar:
Posting Komentar